From Green Action to Green Commitment: Mahasiswa 12 Negara Bergerak Bersama untuk Green Campus FEB UPNVJT

Penanaman mangrove, aksi bersih kawasan, dan Green Pledge dirangkai sebagai pembelajaran lingkungan yang menghubungkan pemulihan ekosistem dengan perubahan perilaku sehari-hari.
SURABAYA — Upaya membangun kampus berkelanjutan tidak cukup berhenti pada slogan, penambahan ruang hijau, atau kegiatan seremonial. Perubahan yang bermakna perlu hadir dalam tindakan nyata sekaligus kebiasaan yang dijaga secara konsisten. Semangat inilah yang dibawa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (FEB UPNVJT) melalui rangkaian kegiatan International Community Service dalam ABLE International Summer Course 2026 pada Kamis 16 Juli 2026. Aksi ini juga mendukung program Green Campus di lingkungan FEB UPNVJT berupa penanaman mangrove, clean area di kawasan mangrove, serta penulisan Green Pledge sebagai janji perilaku hijau.
Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa yang merepresentasikan 12 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor-Leste, Vanuatu, Pakistan, Iran, Uganda, Tanzania, Yaman, Madagaskar, dan Kenya. Keberagaman peserta menjadikan kegiatan lingkungan ini bukan hanya agenda institusional FEB UPNVJT, tetapi juga ruang perjumpaan lintas budaya. Para mahasiswa datang dengan latar sosial dan pengalaman yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu kepentingan bersama: menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab yang melampaui batas negara.
Aksi dimulai dari penanaman mangrove sebagai bentuk kontribusi terhadap pemulihan ekosistem pesisir. Mangrove memiliki fungsi ekologis yang penting karena membantu melindungi kawasan pantai dari erosi, banjir, dan dampak gelombang, sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai spesies serta menyimpan karbon. United Nations Environment Programme (UNEP) juga menempatkan mangrove sebagai ekosistem penting yang mendukung kualitas perairan, perikanan, perlindungan pesisir, dan mitigasi perubahan iklim. Karena itu, menanam mangrove bukan sekadar menambah jumlah pohon, melainkan ikut merawat sistem kehidupan yang menghubungkan daratan, laut, dan masyarakat pesisir.
Penanaman tersebut dilengkapi dengan clean area mangrove. Mahasiswa bersama-sama membersihkan sampah yang berada di sekitar kawasan, terutama material yang berpotensi mengganggu pertumbuhan vegetasi dan kehidupan biota. Aksi bersih ini membawa pesan sederhana tetapi mendasar: pemulihan ekosistem tidak akan optimal apabila pencemaran terus dibiarkan. Menanam bibit baru dan membersihkan sumber gangguan perlu berjalan beriringan agar konservasi tidak menjadi tindakan yang terputus dari persoalan nyata di lapangan. Dimensi yang membedakan rangkaian kegiatan ini terletak pada Green Pledge. Setelah terlibat dalam aksi lingkungan, peserta menuliskan komitmen pribadi pada media.
yang telah disediakan. Isi komitmen diarahkan pada perilaku yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, seperti mengurangi plastik sekali pakai, membawa tumbler, memilah sampah, menghemat listrik dan air, menggunakan dokumen digital secara bijak, serta mengajak orang lain melakukan tindakan serupa.
Green Pledge bukan sekadar tulisan dekoratif. Dalam perspektif perubahan perilaku, komitmen tertulis dapat membantu mengubah kepedulian yang masih abstrak menjadi tindakan yang lebih spesifik dan dapat diingat. Penelitian mengenai intervensi berbasis pledge menunjukkan bahwa janji perilaku dapat mendorong tindakan prolingkungan dengan memperkuat rasa tanggung jawab dan komitmen. Namun, efeknya tidak otomatis bertahan. Komitmen perlu disertai lingkungan pendukung, pengingat, keteladanan, dan kesempatan untuk mempraktikkannya secara berulang.

Karena itu, rangkaian ini menghubungkan tiga tahapan yang saling melengkapi: menanam untuk memulihkan, membersihkan untuk melindungi, dan berjanji untuk mengubah kebiasaan. Pendekatan tersebut penting bagi agenda Green Campus karena persoalan keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur hijau, tetapi juga budaya organisasi dan keputusan sehari-hari warga kampus. Kampus yang hijau bukan semata-mata kampus yang memiliki banyak tanaman, melainkan kampus yang mampu membentuk komunitas dengan pola pikir dan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Keterlibatan mahasiswa dari 12 negara juga memperkuat fungsi kampus sebagai ruang pembelajaran global. Perubahan iklim, pencemaran plastik, dan degradasi ekosistem pesisir merupakan masalah lintas batas. Ketika mahasiswa dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Pasifik bekerja dalam satu aksi, mereka belajar bahwa keberlanjutan membutuhkan kolaborasi, penghormatan terhadap konteks lokal, dan solidaritas global. Pengalaman bersama semacam ini dapat menjadi modal sosial untuk membawa praktik baik ke lingkungan kampus, keluarga, komunitas, dan negara masing-masing.
Meski demikian, kualitas kegiatan lingkungan tidak seharusnya dinilai hanya dari jumlah peserta, dokumentasi, atau banyaknya bibit yang ditanam. Keberhasilan penanaman mangrove juga ditentukan oleh kesesuaian jenis dan lokasi, pemeliharaan, serta tingkat kelangsungan hidup bibit. Demikian pula, Green Pledge baru bermakna apabila komitmen peserta diterjemahkan menjadi praktik dan dievaluasi. Tindak lanjut berupa pemantauan bibit, dokumentasi berkala, kampanye pengurangan sampah, dan refleksi atas pelaksanaan janji hijau menjadi langkah penting untuk menjaga dampak kegiatan.
Melalui kegiatan ini, FEB UPNVJT menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan, pengalaman langsung, dan pembentukan karakter ekologis. Dari kawasan mangrove, para mahasiswa membawa pulang lebih dari sekadar dokumentasi kegiatan. Mereka membawa pemahaman bahwa satu bibit memerlukan perawatan, satu kawasan memerlukan kepedulian bersama, dan satu janji hijau memerlukan konsistensi. Dari bibit ke komitmen, perubahan menuju kampus berkelanjutan dimulai dari tindakan yang nyata dan terus dijaga.

